Friday, 12 April 2013

Keabsahan Suatu Kabar

Jum'at, 12April 2012

Baru baru ini saya mengalami sebuah kejadian yang menarik.Perihal ini berkaitan dengan datangnya sebuah kabar,berita,kisah,dan berbagai informasi lainnya.Di era informasi sekarang ini,banyak sekali informasi informasi yang bertebaran,sangat cepat dan mudah untuk diakses siapapun dan dimanapun dengan dukungan teknologi yang semakin canggih.Dengan dukungan teknologi semacam ini,kita akan sangat gampang membaca,menelaah bahkan mensadur kabar tersebut dan disebarkan ulang.Namun yang menjadi perhatian utama saya pada kasus ini bukanlah tentang berita ataupun kabar tersebut yg meliputi isi,hikmah atau sejenisnya,namun saya lebih menekankan pada dari mana asal muasal datangnya kabar tersebut? Apakah sumbernya memang terpercaya? Atau karangan dan dongeng semata? Mengapa penting? Karena bagi saya pribadi penting untuk memastikan keabsahan suatu kabar,apalagi kabar dan informasi yang dibawa bukanlah sesuatu hal yang sepele,salah satunya adalah ilmu,terutama ilmu agama.Saya tentu juga akan memilih,kabar mana yang memang harus dipastikan keabsahan dan validitasnya.Akan menjadi sangat lucu jika saya menanyakan kisah dongeng yang jelas jelas fiksi semata tentang kevalidan data datanya,karena cerita tersebut memanglah sengaja dibuat buat dengan tujuan tertentu.Kevalidan menjadi vital jika hal yang dibawa ini adalah hal besar dan penting,seperti halnya risalah,ilmu serta informasi informasi penting lainnya.Bukan bermaksud untuk menafikkan suatu kabar ataupun ilmu yang datang,melainkan mengantisipasi agar tidak jatuh kedalam kabar kabar palsu ataupun yang dibuat buat.Seperti halnya ketika fitnah menimpa diri kita,untuk hal ini tak perlu disangkal lagi,pasti kita akan menanyakan bersumber dari mana berita itu dan siapa yang membawakannya.Lalu bagaimana jika yang datang itu berita baik lagi mengandung hikmah? Hal inipun perlu diklarifikasi,apakah benar perbuatan itu memang dilakukan oleh yang bersangkutan atau tidak.Mengkonsumsi berita dan kabar itu seperti proses orang makan,ketika dihidangkan sepiring makanan dihadapannya,perlulah diketahui darimana ia didapat,apakah dengan jalan yang baik atau sebaliknya.Jika memang ia datang dari jalan yang baik,tidaklah langsung ditelan namun dikunyahlah terlebih dahulu untuk menghaluskannya lalu kemudian ditelan agar lebih mudah dicerna.Namun terkadang kita terlalu gegabah dalam menanggapi datangnya sebuah berita,baik itu berita baik maupun buruk.Jika berita baik datang padanya,ia langsung terpukau dan tergumam gumam,tanpa pernah mau tahu apakah isi berita itu benar benar “benar” ataupun sekedar cerita yang dibuat buat untuk menarik perhatian khalayak.Jika berita buruk yang datang,maka marah marah,sedih dan beberapa reaksi penolakan lainnya.Begitulah gambaran secara umumnya,terkadang kita hanya bisa menerima karena tak mampu membuktikannya ataupun meneliti lagi status validitasnya.Yang menarik lagi,ketika kabar yang datang itu ilmu agama,yang mana memang harus ada sumber rujukan yang terpercaya.Hal inilah yang saya alami baru baru ini,ketika ada yang membawakan sebuah kisah yang berhubungan dengan ilmu agama,bahkan kisahnya juga termahsyur,yang saya perhatikan adalah sumber rujukan dan status keshahihan dari kisah tersebut.Kemudian saya menanyakan,darimana sumber kisah ini? Siapa perawinya dan apakah statusnya shahih atau tidak? Banyak yang menjawab bahwa yang terpenting adalah hikmahnya,tidak perlu mempersalahkan sumbernya atau darimananya.Tidak!! bahwa sumber ilmu agama haruslah berlandaskan,tidak bisa asal mengambil hikmahnya saja tanpa pernah mengetahui darimana ilmu itu berasal.Sampai saat inipun saya masih belum mendapatkan jawabannya,karena mayoritas menjawab bahwa yang terpenting adalah hikmahnya saja.Sekali lagi saya menjawab dan menegaskan,bahwa saya tidak menafikkan kisah tersebut,yang saya tanyakan itu adalah sumbernya darimana,karena setahu saya memanglah tidak diperkenankan untuk mengambil kisah ataupun ilmu agama tanpa adanya sumber rujukan yang terpercaya.Dalam kasus ini,sebetulnya saya hanya ingin tahu apakah kisah ini benar benar bisa dipastikan keshahihannya atau tidak,namun tak jarang pula menuai kontroversi dan mengundang amarah khalayak.Dalam kondisi seperti ini,penting bagi diri saya pribadi untuk memperhatian etika dalam berdiskusi dan bertukar pikiran,yaitu tanpa perlu menggunakan emosi dan amarah,jika memang ada hujjah yang kuat dan rujukan ilmiah yang terpercaya,tolong disampaikan saja agar yang lain paham tanpa perlu menjelek jelekkan bahkan sampai menyakiti pihak yang lain.Begitu pentingnya darimana kisah,informasi dan ilmu itu berasal jika yang dibawa adalah sesuatu hal yang penting.Terimakasih.

Wednesday, 10 April 2013

Tentang Berbicara dan Berkomunikasi

Rabu, 10 April 2013

Akhir akhir ini saya selalu mengamati beberapa cara dan teknik orang dalam berbicara,bukan tentang apa yang dibicarakan tapi yang lebih saya perhatikan adalah bagaimana cara orang tersebut menyampaikan maksud dan tujuan sehingga pahamlah lawan bicaranya.Mulai dari artikulasi,pilihan kata(diksi),nada dan berbagai hal hal lainnya yang berhubungan dengannya.Kenapa hal hal seperti ini saya perhatikan? Mungkin ini nampak sepele tapi menurut saya ini adalah hal penting ketika kita ingin menjalin dan berhubungan dengan orang lain.Ada sebagian orang yang membuat saya kagum hanya dari mendengar caranya menyampaikan informasi yang ingin ia utarakan.Menarik dan runtut.Ada juga yang sangat jago dalam melakukan diplomasi,sehingga untuk urusan urusan yang berhubungan dengan birokrasi lebih mudah dan lancar.Satu hal yg sangat membuat saya tertarik adalah bagaimana cara bertutur & berkata dengan santun tanpa harus menyakiti,pun begitu ketika kita ingin membantah/menyangkal tuduhan yg ditujukan pada kita.Bahkan untuk “melumpuhkan lawan bicara” dan membuatnya menekkukan kepala termangu-pun tak diperlukan amarah ataupun bantahan dengan bentakan.Sepengalaman saya sendiri,menundukkan orang lain yang pernah saya temui lebih efektif dengan cara cara yang halus.Seperti tercontohkan kasus yang pernah saya temui ketika saya masih bekerja di salah satu perusahaan penyedia jasa komunikasi.Terceritakan bahwa ada salah satu pelanggan kami yang mengalami masalah dengan jasa kami,beliaupun telepon dan marah marah atas gangguan yang terjadi.Diselidikilah oleh kawan saya waktu itu,ternyata pokok permasalahan ada pada perangkat milik pelanggan tersebut.Dijelaskanlah bahwa akar masalahnya adalah seperti ini dan penanganannnya seperti ini oleh kawan saya ini.Dasar dalam kondisi kalut,beliau pelanggan kami inipun tetap marah marah dan tidak mau menerima penjelasan tadi.Beruntung,kawan saya ini tidak membalasnya dengan marah pula,ia hanya mendesah kecil dan menerima semua itu.Lalu ia berkata bahwa ia akan turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan,diagnosa.Keesokan harinya,kawan saya akhirnya bertandang ke lokasi pelanggan.Sesampainya disana,bukannya sambutan hangat yang diterima,beliaupun marah dan mencak mencak sambil menggebrak perangkatnya,kawan saya masih diam saja.Dilakukanlah testing dan kelihatanlah hasilnya,kemudian ditunjukkanlah hasil pengetesan beserta bukti bukti dan hasil pengetesan.Pada akhirnya beliau mengakui bahwa masalah memang ada pada perangkatnya.Terpekur diam dan malu,mungkin itulah perasaan yang ia rasakan saat itu,sudah salah masih ngeyel pula.Kawan saya lalu berpamitan pulang dengan sungging senyum kemenangan.Berbeda halnya ketika dalam kondisi yang sama persis seperti itu namun berbeda dalam menanggapinya,semisal dengan marah marah.Saya pribadi pernah mengalaminya,ketika itu berhadapan dengan pelanggan awam yang mungkin bisa dibilang pengetahuannya di bidang teknis tak terlalu luas.Kala itu beliau komplain tentang gangguan yang dia alami dari penggunaan jasa perusahaan kami.Setelah saya selidiki,kasusnya sama yaitu akar masalahnya ada di pihak pelanggan.Setelah saya jelaskan,beliau tidak terima sayapun tetiba terbawa arus dan ikut ikutan emosi.Dalam kondisi seperti ini,di kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah dan akhirnya problem ini malah bertambah panjang.Dari kasus kasus ini,terlihat bagaimana pentingnya cara mengkomunikasikan agar lawan bicara paham sepaham pahamnya apa yang dimaksudkan dan tujuan dari pembahasan ini.Terkadang saya juga berpikir,apakah sesungguhnya ketika kita ingin mengkomunikasikan sesuatu hal ihwal pada seseorang,pertama tama yang harus dilakukan adalah mengenal dan menyelami siapa yang akan kita ajak bicara? Apakah untuk pokok pembahasan bisa dikesampingkan nanti jika kita sudah mengenal siapa lawan bicara kita? Bukankah dengan mengenal seseorang lebih intim kita akan mudah untuk melakukan pendekatan? Jika sudah akrab dan dekat dengan lawan bicara akan lebih mudah dan nyaman lagi untuk menyampaikan maksud dan tujuan.Mungkin sangat penting untuk melakukan pendekatan pengenalan pribadi & probing (menggali informasi lebih dalam) sebelum melakukan komunikasi lebih lanjut.