Wednesday, 30 October 2013

Secuil Masa Lalu


Yogyakarta, 30 Oktober 2013

          Pagi yang segar, aroma tanah basah yang baru saja tersiram hujan dan dedaunan hijau yang mengkilat tersapu embun. Kususuri jalanan pagiku ini, teringat bagai sebuah diorama kenangan pertama aku menjejakkan kaki di kota ini. Kota yang tak pernah aku tahu di masa laluku, kota nan spesial yang kelak kan selalu kurindukan ketika pergi, bagai rumah sendiri yang tak terganti, Jogja. Masih tergambar jelas, kabut di pagi buta itu menyusup ke dalam bus yang aku tumpangi sepanjang perjalananku menuju Jogja, pukul 4 pagi, hampir sampai dan untuk pertama kali aku menjejak kaki disini. Aku dan keluargaku menumpang sebuah angkutan umum untuk menuju ke sebuah rumah, rumah kakek dan nenekku. Dulu dan kini. Semua cerita di masa lampau tentangnya, hanya tinggal sebuah kisah dan kenangan. Kami memang selalu menginap di tempat kakek dan nenek ketika pulang ke Jogja, bercengkrama dengan semua saudara disana. Pak Lik, Bu Lik, Pak Dhe, Budhe, serta semua keponakan yang umurnya hampir seumuran dengan kami. Almarhum kakekku, yang aku selalu salut dengan beliau, seorang pengusaha pemilik bengkel las, teralis, servis motor, dan sejenisnya, seorang pekerja keras dan ulung. Nenekku yang selalu rajin bangun pagi pagi buta untuk pergi berdagang ke pasar lokal di daerah sekitar. Selama disana, kuhabiskan masa kecil bersama teman temanku yang tak tentu kujumpai setahun sekali. Menyenangkan sekali, mainan kamipun berbeda terpaut jauh dengan mainan anak anak masa kini, kami bermain kejar kejaran, sunda manda, petak umpet, bermain gundu, main rumah rumahan dengan tanah, bersepeda dan segala permainan tradisional lainnya. Selepas sekolah, kami selalu berjumpa di sebuah tanah lapang milik salah seorang tetangga kami, dengan pepohonan rindang di sekitarnya, dengan jalanan yang belum teraspal, sebagian besar jalanan disini masih beralaskan tanah. Entahlah permainan apa yang akan kami mainkan nantinya, berjumpa dengan mereka saja, aku sudah gembira. Walaupun badan kami selalu kotor dan terkadang gatal gatal setelah bermain, tapi sungguh senang rasanya. Tali persahabatan diantara kami begitu rekat, tak ada yang autis, masing masing disibukkan dengan gadgetnya seperti sekarang, karena di masa kecil kami, gadget adalah barang yang sangat mahal dan jarang yang punya. Siang tengah haripun, dulu kami masih sempat duduk duduk santai sembari berkelakar di bawah pohon rambutan. Semilir angin bertiup lirih, dengan obrolan renyah diantara kami yang menghangatkan suasana. Terkadang kami bermain di sungai di sebelah barat kampung kami, membawa jaring kecil dan sebuah plastik berisi air untuk mewadahi ikan kecil kecil yang kami dapat disana, tak jarang pula kami nyebur di sungai, mandi bersama. Ah.. kapan masa masa bahagia itu bisa kembali terulang? Sukar sekali rasanya. Seiring waktu berjalan yang tak terasa begitu cepatnya, masing masing kami yang dulunya bermain bersama di kebun dan ladang, di sungai, di gundukan pasir, di tanah lapang kini semakin jarang bersua. Seingatku, semenjak kami lulus dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Kini semua telah punya jalan dan cerita hidupnya yang baru. Kampung kami yang dahulu selalu ramai di siang dan sore hari oleh gelak tawa, canda maupun tangisan anak anak, kini semua telah surut dan hampir hampir semua itu menghilang, ditelan masa.Kami yang dulu selalu bermain bola di sore hari, dan lapangan yang begitu riuh, kini lapangan itu telah sepi dan berganti menjadi sebuah bangunan, yang rupanya sebuah kos kosan. Kebun kebun tempat kami bermain 10 tahun yang lalu, kini telah berdiri megah sebuah bangunan mewah di atasnya. Kehangatan dan keakraban kami 10 tahun yang lalu, seolah olah kini semuanya tinggal cerita, bahkan kini berjumpa saja tak tentu sebulan sekali, padahal rumah rumah kami masihlah belum berganti. Ramainya bengkel kakekku yang selalu riuh dengan suara mesin diesel dan las, kini menjadi senyap sepeninggal beliau. Mesin dan alat alat di bengkel seakan akan membisu, tak mampu bertalu talu lagi seperti dahulu. Jarang lagi kulihat, seorang tua di desa kami menggembala sapi, kambing, dan membawa rumput di dalam karung melintasi jalanan desa. Semua telah berubah dengan begitu singkatnya, bagaikan debu menempel di atas batu yang tertiup angin, dan terguyur hujan. Tak berbekas, namun masih menyisakan tempat bernaungnya.