Selasa, 19 Juni 2012
Akhir akhir ini saya punya hobi baru yaitu panjat dinding.Semenjak dibangun wall climbing disamping rumah,si empunya ini masih saudara dengan saya dan dia adalah atlet panjat dinding jenis boulder tingkat nasional.Wallnya tidak terlalu tinggi,sekitar 5-6 meter dengan 4 jalur yang tingkat kesulitannya berbeda beda.Di setiapjalur dipasang berbagai jenis point,mulai dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar.Point adalah batuan yg ditempel di wall/dinding sebagai pegangan atau pijakan untuk memanjat.Dalam jenis panjat dinding boulder,tingkat kesulitannya bukanlah diukur dari seberapa tinggi anda mampu memanjat,tapi sejauh mana pemain menyelesaikan melalui jalur yang ditentukan hingga ke top point(point puncak) atau finish point.
Beberapa hari yang lalu,saya diajak oleh adik dari saudara saya ini untuk latihan memanjat.Adik keponakan saya ini tergolong pandai memanjat,karena latihan yang dia lakukan sudah lumayan lama.Singkatnya,siang itu kami berlatih 3orang.Kami menggunakan jalur boulder yang menggunakan roof(atap),yang mengharuskan pemanjat menggelantung di roof untuk sampai ke top point.Adik saya ini memberi jalur atau lintasan mana saja yang pointnya harus dipegang.Tidak saya sangka,ternyata jalur yang diberikannya terbilang susah apalagi untuk anak kecil seumuran dia,dia masih kelas 5 SD.Jalurnya adalah mulai dari start point dinding lurus kemudian point selanjutnya adalah 2 point di roof top yang jaraknya terbilang jauh.Disitu pemanjat diharuskan jump(loncat) supaya bisa sampai ke point selanjutnya.
Akhir akhir ini saya punya hobi baru yaitu panjat dinding.Semenjak dibangun wall climbing disamping rumah,si empunya ini masih saudara dengan saya dan dia adalah atlet panjat dinding jenis boulder tingkat nasional.Wallnya tidak terlalu tinggi,sekitar 5-6 meter dengan 4 jalur yang tingkat kesulitannya berbeda beda.Di setiapjalur dipasang berbagai jenis point,mulai dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar.Point adalah batuan yg ditempel di wall/dinding sebagai pegangan atau pijakan untuk memanjat.Dalam jenis panjat dinding boulder,tingkat kesulitannya bukanlah diukur dari seberapa tinggi anda mampu memanjat,tapi sejauh mana pemain menyelesaikan melalui jalur yang ditentukan hingga ke top point(point puncak) atau finish point.
Beberapa hari yang lalu,saya diajak oleh adik dari saudara saya ini untuk latihan memanjat.Adik keponakan saya ini tergolong pandai memanjat,karena latihan yang dia lakukan sudah lumayan lama.Singkatnya,siang itu kami berlatih 3orang.Kami menggunakan jalur boulder yang menggunakan roof(atap),yang mengharuskan pemanjat menggelantung di roof untuk sampai ke top point.Adik saya ini memberi jalur atau lintasan mana saja yang pointnya harus dipegang.Tidak saya sangka,ternyata jalur yang diberikannya terbilang susah apalagi untuk anak kecil seumuran dia,dia masih kelas 5 SD.Jalurnya adalah mulai dari start point dinding lurus kemudian point selanjutnya adalah 2 point di roof top yang jaraknya terbilang jauh.Disitu pemanjat diharuskan jump(loncat) supaya bisa sampai ke point selanjutnya.
Rekan saya mencoba untuk pertama kali, "hap" ia meloncat dan gagal,hanya menyentuh pointnya saja,tidak terpegang.Kemudian giliran saya,"hap" sayapun meloncat dan sayapun gagal,bahkan saya hanya menyentuhnya saja,tidak sampai mencengkramnya.Kemudian adik saya ini mencoba,"hap" dapat!! hanya dalam sekali percobaan!! wah,bagaimana mungkin dia bisa melompat sejauh itu dan mencengkram point selanjutnya?padahal rentang tangannya saja lebih pendek dari rentang tangan saya.Kemudian saya mencoba lagi,lagi dan gagal lagi,hanya menyentuhnya.Akhirnya,pada percobaan selanjutnya,ketika saya mau loncat dari posisi start,adik saya ini berkata "mas,timing mas,tentukan momentum yang tepat buat mencengkram point,lihat dulu point targetnya,konsentrasi,pointnya ada 2,gunakan 2 tangan untuk mencengkram,loncat,lalu tentukan timing yang pas buat mencengkram". Saya pikirkan kata kata adik saya ini,saya memang asal loncat sebelumnya,dan hanya menggunakan satutangan untuk menjangkau point selanjutnya.Akhirnya saya coba lagi,konsentrasi dan tentukan timing yang pas,dan "hap" sekali loncat,akhirnya saya mampu menggenggam ke-2 point selanjutnya."Wah,benar juga anak ini,ternyata semua yang dieksekusi disaat timing(momentum) yang tepat itu membuahkan hasil yang lebih maksimal."
Setelah memegang point ke-2 dalam posisi menggelantung,saatnya melanjutkan ke point ke-3,saya mampu menggenggamnya,karena pointnya tergolong enak buat dipegang,namun saya kesulitan dalam memindahkan tangan saya yang satu lagi(transfer).Akhirnya tenaga saya habis di point ke-3,kemudian terjatuh.Kemudian adik saya ini berkata lagi,"mas,tangannya ditumpuk dulu di satu point,kalau sudah ditumpuk,lalu pindahkan tangan yang satunya kepoint selanjutnya,supaya lebih mudah nanti transfernya".Oke,saya turuti kata adik saya ini,ternyata memang lebih "ngirit" tenaga.Tapi itupun masih salah,saya masih salah dalam hal"posisi tangan dan jari dalam memegang point". Wah,ternyata,memegang batupun ada tekniknya,tak sembarang memegang.Anak ini mencontohkan lagi dengan peragaan tangannya,bagaimana memegang point yang benar.Saya coba lagi,dan benar,pegangannya lebih erat,enak,dan irit tenaga. Semua keahlian,ternyata ada tekniknya(ilmunya) supaya bisa lebih cepat dalam penyelesaian dan mencapai tujuan. Memang bisa mencoba coba sendiri hingga menemukannya,tapi butuh waktu lama untuk memahami,dan lebih cepat kalau tahu ilmu dan teknik mengeksekusinya.
Saya masih terbilang pemula dalam olahraga ini,belum lama saya memainkannya,itupun karena arena wall climbing ini ada didepan rumah.Dulu saya tidak tertarik sama sekali dengan olahraga ini,saya lebih senang bermain basket dan sepakbola.Tapi,semenjak arena ini dibuka,ada rasa ingin mencoba sesuatu yang baru,sepertinya menantang.Saya melihat atlet atlet kawakan memanjat saat acara peresmiannya.Sayapun berpikir,ini sepertinya mudah,hanya memanjat,yang tidak terlalu tinggi,sepertinya saya juga bisa.Setelah acara opening selesai,saya sendiri coba memanjat,ternyata anggapan saya semuanya itu salah.Sesuatu yang saya lihat dan anggap mudah itu sulit sekali ternyata.Bahkan saat saya mencoba di jalur paling mudahpun,saya tak mampu mencapai puncak,tangan saya sakit semua,tangan menjadi cepat keras dan kehabisa ntenaga.Setelah itu saya sering berlatih disitu,bertanya,dan diberi masukan bagaimana memanjat yang benar.Mulai dari memegang point,posisi badan,posisi kaki,cara mengambil point selanjutnya dan lain lain.Memang terasa perbedaannya setelah lama berlatih,saya jadi tahu,bahwa posisi kaki yang salah itu akan menyulitkan kita dalam melangkah ke point selanjutnya,begitupun cara memegang point,posisi badan,tangan,dan sejenisnya.Akhirnya,saya mampu mencapai top point setelah lumayan lama berlatih. Inti dari semua itu adalah latihan. Kalau melihat atlet memanjat,memang terlihat sangat mudah,karena mereka sudah latihan bertahun tahun lamanya. Mereka ahli karena sering berlatih.
Dari olahraga ini,ternyata ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
1) Timing atau Momentum : semua yang dieksekusi disaat timing(momentum) yang tepat itu membuahkan hasil yang lebih maksimal.
2) Ilmu atau Teknik : semua keahlian,ternyata ada tekniknya(ilmunya) supaya bisa lebih cepat dalam penyelesaiandan mencapai finish
3) Latihan : Membutuhkan latihan dan jam terbang yang terbilang lama,bahkan bertahun tahun untuk menjadi ahli dalam suatu bidang.
No comments:
Post a Comment