Rabu, 30 Januari 2013
Sudah tak asing lagi di telinga kita mendengar judul diatas.Suatu hal yang banyak diperebutkan oleh manusia.Memang tak bisa dipungkiri,ia seperti bahan bakar yang dibutuhkan bagi berlangsungnya kehidupan.Di era seperti ini,harta mampu menaikkan prestise seseorang dalam perspektif orang lain.Semakin banyak harta dikumpul,semakin tinggi pula sepertinya prestise yang ia sandang.Dalam konteks materi,bentuknya beragam,seperti uang,perhiasan,properti atau barang barang berharga lainnya.Mungkin ada sebagian yang berfikir bahwa harta adalah salah satu sumber kesenangan.Memang,dengan itu semua,kita mampu membeli barang barang yang kita ingini,maupun membantu sesama makhluk untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka.Namun di sisi lain,ia juga memiliki bagian gelap dari semua itu,yang mungkin secara implisit jarang terlihat dan diusung,yaitu pemicu konflik dan kericuhan.
Harta khususnya berupa materi,memang layak diibaratkan bak pedang bermata dua.Satu sisi membawa kemaslahatan bagi pemiliknya,ataupun justu yang akan menjadi senjata makan tuan,yang akan menghabisi pemegangnya.Baguslah jika harta ini mampu membawa kemaslahatan bagi diri sendiri ataupun bagi kepentingan umat,tapi satu hal yang cukup pelik dibalik itu semua adalah ketika harta menjadi sumber kericuhan dan konflik.Sepertinya memang sudah banyak kasus kasus semacam ini,mulanya berawal dari rasa iri kepada orang lain yang nampaknya rumput milik tetangga terlihat lebih hijau dan segar,rumahnya lebih terlihat mewah dengan berbagai macam property menghiasi di setiap sudutnya.Namun cobalah perhatikan lingkungan di sekitar sabana yang menghijau tersebut,di sekitarnya masih ada tanah tanah yang gersang nan tandus,bahkan dedaunanpun tampak layu disana.Disitulah kisah itu bermula.
Kesenjangan sosial,ketika seseorang merasakan iri hati melihat sesuatu yang lebih wah daripada apa yang ia miliki saat ini.Timbullah rasa ingin tak terperi yang mempertanyai hati: kapan diri ini miliki semua itu? Sakit! Ya seperti itulah adanya,dan yang pertama kali terserang adalah hati,yang mengakibatkan rasa nyeri luar biasa bersebab keinginan yang meluap luap namun sarana dan pendukung untuk semua itu belum ada,lalu mau apa? Akibat yang sering dirasakan adalah stress,depresi maupun frustasi berat dan hal hal semacamnya.Berat memang ketika harus bersanding dengan sesuatu yang lebih glamour daripada yang kita miliki,tentu rasa iri dan ingin selalu berkelebat sepanjang mata memandang.
Sudah banyak hal hal seperti ini menimpa di beberapa kalangan.Lalu timbullah pertanyaan dari dalam diri sendiri,dari hati nurani: “apakah saya juga merasakan hal yang sama ketika saya melihat sesuatu yang lebih wah dari semua apa yang saya miliki?” Tentu! Hatiku berkata sedemikian.Memanglah,tak bisa ditepis lagi ketika kita masih punya keinginan dan harapan akan sesuatu yang lebih daripada yang ada sekarang,wajar! Lalu apanya yang tidak wajar? Akalku kembali berceletuk.Sesuatu yang tak wajar dibalik itu semua? Penyebab sakitnya hati ketika kita berkeinginan lebih? Mungkin kurangnya bersyukur? Atau sedikitnya sifat qana’ah(berkecukupan) atas semua pemberian dari-Nya? Mungkin itu semua bisa menjadi faktor faktor pendukungnya.
Manusia memang tiada puasnya.Betul,ini bisa berarti baik ataupun sebaliknya.Tiada puasnya berarti baik ketika itu tertuju pada ilmu yang dicari,kemanfaatan pada diri sendiri dan ummat yang terus serasa masih belumlah apa apa.Ini juga bisa berarti petaka,kala semua pemberian dari-Nya dirasa kurang,kurang dan kurang.Sedemikian serakah dan tamakkah? Kalau sudah begini,segala cara akan dilabeli “halal” asal senang,asal dapat tak peduli apakah ada pihak pihak lain yang merugi.Asal bapak senang! Caplok sana caplok sini,harta bertambah dan berkelimpahan,tapi sayang semua itu tiada berkah.Tak bisa disangkal lagi perkataan diberi segunung emaspun masih kurang.Terbesit kembali tanya menyapa: “apakah diriku ambil bagian dari orang orang itu?” Berdesah sejenak aku menerawang kedalam diriku sendiri,berkaca dan kulihat.Lihatah rasa inginmu,yang lebih mendominasi dari rasa butuhmu! Hatiku membentakku keras seperti itu.Lihatlah lagi barang barang di kamar dan gudangmu,banyak yang tak kau pakai,lalu untuk apa dahulu engkau membelinya? Hmmpphh.. aku menghela nafas panjang tak mampu menjawab semua pertanyaan itu dari dalam diriku sendiri.Aku linglung.Biarlah aku sendiri yang menjawabnya.
Dari semua paparan diatas,sebagian memang menginginkan harta materi yang banyak,yang melimpah,agar semua apa yang diingini didapati,terturuti.Tapi belumlah tentu ketika semua materi berlimpah lalu semua yang diingini didapati.Terkadang terlupakan hal hal yang harganya lebih mahal daripada materi,seperti rasa persaudaraan,kekeluargaan,kesehatan,maupun hal yang sangat mahal harganya: ketentraman dan ketenangan.Terlalu sempit jika berpandangan bahwa harta hanya sekedar materi belaka,memang benar itu semua termasuk dalam kategori harta,tapi hanya cukupkah semua itu sampai disitu? Tidak! Bahkan banyak orang yang hidup tak berkelimpahan mampu merasa bahagia dengan kesederhanaanya.Bukankah sederhana itu bersahaja? Cukuplah tulisan ini menjadi pengingat terutama bagi diriku sendiri,agar tak terlampau bersilau harta.Semoga selalu dilimpahkan rasa berkecukupan pada semua yang telah dilimpahkan oleh-Nya dan selalu mensyukurinya.Aamiin.
No comments:
Post a Comment