Wednesday, 30 January 2013

Rasa Suka & Benci

Jumat, 18 Januari 2013

Pagi hari yang romantis, curah hujan tak begitu deras.Proporsional,dibalut dengan hawa dingin ala pegunungan dan dihiasi putihnya kabut nan tak begitu pekat.Selepas mandi,hawa dingin masih saja menyelimuti sekujur tubuhku.Kembali aku terbaring diatas sebuah kursi memanjang yang diletakkan oleh ibuku disamping ruang keluarga.Kutatap hujan pagi ini,nikmat sekali rasanya,begitu besar karunia dan anugerah-Nya.Alhamdulillah.Kali ini aku tak menjalankan rutinitas pagiku seperti biasa,menyapu halaman rumah,ataupun menyalakan mesin motorku untuk sekedar memanaskan sendi sendi mesin motorku di luar rumah.Hujan masih turun berderai,dan tubuhku kali ini terasa sangat menggigil.Kualihkan perhatianku tuk melepas dingin,sembari kupersiapkan kebutuhan adikku yang paling kecil untuk berangkat sekolah.

Jam dinding rumahku menunjukkan pukul 07.00 ketika aku membuka pintu rumahku selepas menghantar adikku sekolah.Aku kembali duduk di kursi memanjang disamping ruang tamu itu,kutatap sederetan buku yang ada di dalam rak buku kecil dengan 4 celah untuk menyimpan buku buku koleksi kami sekeluarga.Masih segar terasa buku yang baru saja aku beli beberapa hari lalu di sebuah toko buku langgananku.Shaid Al-Khatir,begitu judulnya,dengan gambar sebuah pena di sampul depannya dan sebuah peta yang sepertinya itu adalah peta Negara Irak waktu itu.Buku ini cukup menyita perhatianku,berisi nasehat nasehat penyegar Iman.Penulisnya pun cukup termahsyur di kalangan penulis dan ulama ,beliau adalah Ibnu Al-Jauzy.Lembaran demi lembaran kubuka,kubolak balik buku terjemahan karangan beliau.Kubaca meloncat loncat dan tidak berurutan,hingga aku menemukan sebuah bab menarik,bertuliskan besar di tengah tengah halaman "Menyembunyikan Rasa Suka dan Benci"

Ketertarikanku pada bab ini bukanlah tersebab judulnya,sebuah kutipan dengan tulisan lebih besar dan tebal yang menghiasi halaman 447 buku terbitan Darul Uswah ini.Terkutip seperti ini: "Bila tertawan oleh kecantikan seorang wanita,engkau wajib merenungkan sifat-sifat batinnya terlebih dahulu sebelum engkau mencintainya dengan cinta yang sesungguhnya". Terus saja kubaca bab ini hingga akhir.Menarik sekali pikirku,aku masih terngiang ngiang dan terpikirkan akan makna kalimat ini.Sejenak aku termenung,menyibak kedalam diriku sendiri dan bercermin tuk merefleksikan diri akan pesan tersebut.Hmm.. Aku berulang membacanya sepotong demi sepotong: “Bila tertawan oleh kecantikan seorang wanita.. “ Mayoritas lelaki,bahkan diri pribadi,akan cenderung suka dengan wanita yang cantik.Wanita cantik tampak menarik di mata seorang pria,karena keelokan rupa ataupun raganya.Hampir sering kujumpa, setiap lelaki pasti menginginkan wanita cantik untuk menjadi kekasihnya,semua itu tak luput ketika kuberjumpa dengan diriku sendiri.

“…engkau wajib merenungkan sifat sifat batinnya terlebih dahulu…” terbaca berulang kutipan itu, hingga tertahan di kalimat tersebut.Lagi lagi benar apa yang beliau pesankan.Mencintai bukan hanya masalah fisik.Bukan hanya sekadar rupa dan raga,itu semua hanyalah kulit luarnya selaku penghias dan perwujudan riil eksistensi keberadaan.Manusia memiliki jiwa,batin,dan segala aspek yang tak mampu terlihat oleh mata lahiriah,namun ia mampu dirasa dengan hati.Merenungkan sifat sifat batinnya,apa yang beliau tekankan disini adalah pilar pilar yang perlu diperhatikan,terutama perhatikanlah Agamanya.Benar adanya,ketika seorang (tak hanya wanita,begitupun lelaki) memahami akan agamanya,ia akan mampu mengarungi hidup ini dengan penuh kematangan dan kemantapan.

Sampailah pada penghujung kutipan “….sebelum engkau mencintainya dengan cinta yang sesungguhnya”..Cinta yang mulia,ketika mengajak menuju ke jalan kebaikan.Cinta yang dibingkai dalam mahligai pernikahan.Cinta yang tak semu,seperti semunya senja di sore hari yang lekas berganti gelapnya malam.Cinta yang berada di pertengahan,tak terlalu dan tak berkekurangan.Terlampau banyak makna cinta dan pembahasannya yang tak akan habis berujung.Sebuah gubahan syair yang entahlah siapa beliau bernama ,tertuliskan dengan indah yang bermakna kurang lebih: Jika engkau mencintai kekasihmu,maka jangan tampakkan cintamu padanya,hingga engkau mengetahui kebaikan kebaikannya.Eksplisit sekali makna nan sangat mendalam dari syair ini.Jangan terlalu mencinta dan jangan terlampau membenci,begitu tertulis ulasan dibawahnya.Sesosok yang tercinta tak jarang berubah menjadi musuh yang membahayakan,dan sesuatu yang dibenci terkadang beralih menjadi yang terkasih.

Benarlah ketika mengambil sesuatu itu jalan tengahnya.Berkecukupan.Banyak terambil makna dari pengalaman pengalaman di sekitar atau mungkin lebih dekat lagi melongok kedalam diri sendiri akan peristiwa yang tergambar dari isi syair tersebut.Sering atau bahkan berkali kali tartambat rasa benci dalam diri bersebab kecewa pada sesuatu yang dicinta,hingga semua rasa itu berubah drastis menjadi bara api kebencian di dalam dada.Pun sebaliknya ketika tertanam rasa benci kepada sesuatu,lalu semua itu terubah menjadi mahligai cinta nan begitu indah tersebab telah pahamnya akan makna kepada yang dibenci.

No comments:

Post a Comment