Kamis, 21
Februari 2013
“Sebilah
belati yang kau genggam,bisa kau gunakan untuk menikam buruanmu atau
kau sendiri yang tertikam karena kau sembarangan
menggunakannya”.Genggamlah,genggamlah belati itu erat erat dan
jangan kau lepaskan selagi itu bukan waktu yang
tepat.Tikamkan,tikamkan ia pada sasaran yang telah engkau intai
berhari hari lamanya atau simpanlah dan kuburlah belati itu jika
engkau tak tahu cara menggunakannya,karena itu akan membahayakan
dirimu sendiri dan orang lain yang sama sama tidak mengerti bagaimana
menggunakannya.
Pernahkah
kau tahu belati itu? Atau pernahkah kau menikamkannya? Atau justru
kau sendiri yang tertikam olehnya? Mungkin,mungkin hampir setiap
insan pernah merasakannya.Banyak belati yang pernah kita
miliki,seperti waktu,rasa dan angan.Waktu,pernah kau menikamkannya?
Kau tikamkan untuk apa belati itu? Ahh.. ini adalah pertanyaan yang
mungkin akan menusuk hati dan membuat kelu lidah untuk berucap.Jika
sudah kau tikamkan,lalu apa yang kau dapatkan? Sudahkah kau dapatkan
buruanmu? Atau kau tak tahu bagaimana cara melempar belatimu sehingga ia
meleset dan tak mengenai barang sejengkalpun dari sasaranmu? Sudah!!
Cukup!! Mulutku seakan tertutup rapat dan hatiku tak berkutik lagi
untuk menjawabnya.Biarlah jawabnnya kusimpan sendiri.Sinar mataku
hampa,melihat belati berserakan ditinggal lari sekencang kencangnya
oleh buruanku yang entah kemana sekarang ia bersarang.Akupun harus
menerabas hutan belantara waktu lagi. Mempersiapkan senjata dan
amunisi baru.Tapi tunggu dulu,bukankah belati yang berserakan tadi
sudah cukup menusuk jantung ini meski ia tak menyentuh ragaku? Hatiku
sudah cukup terluka karena inginku tak tersampaikan.
Semua
sudah berlalu,biarlah senjataku berserakan ditempat itu sebagai bukti
dan jejak bahwa aku pernah gagal berburu.Sudah seharusnya
kusiapkan lagi belati baru dan mengasahnya,sembari mengingat ingat
bagaimana seharusnya aku melemparnya.Kecewa dan gembira menjadi
satu.Kecewaku karna belum membawa apapun dalam perburuan
ini.Gembiraku karna terbayang hasil yang akan kudapat setelah aku
mengasah lagi senjata dan kemampuanku.Aku
duduk melamunkan seandainya saja aku berhasil dalam perjalananku kali
ini.Kelak jaringku tak menganggur lagi,sudah terisi dengan hasil
buruan yang besar dan aku dengan bangganya membawa pulang semua
itu.Orang orang di desa akan mengelu elukanku,mereka akan menjulukiku
sebagai pemburu yang handal.Lalu akan kuadakan pesta api unggun dan
makan makan untuk merayakannya.Orang orang kan menghormatiku..
Sreett!! Ahh!! Kulihat darah segar mengucur deras dari sela sela jari
tanganku.Sakit sekali,aku mengerang tak karuan.Mimik wajahku hanya
meringis mengiba.Mengiba kepada siapa?aku sendiri disini.Ini
salahku,anganku terlalu panjang hingga aku lupa kesadaran,bahwa aku
sedang menggenggam dan mengasah sebilah belati.Untung ia belum
membunuhku.
Ampun!!
Sudah tak kudapat buruan,masih pula terkena sayatan belati nan
tajam.Sebelah jari tanganku terluka.Jari tangan yang biasa kuselipkan
di gagang pisauku sebelum kulemparkan.Terhenti,perburuanku harus
terhenti sejenak sampai disini.Tanganku sakit dan tak bisa melempar
pisau dan senjata lagi.Bahkan hanya untuk sekedar menggenggamnya saja
aku harus menahan perih yang luar biasa.Aku harus menunggu hingga
luka ini sembuh,lalu kulanjutkan lagi perburuanku.Duduk dibawah pohon
yang rindang,sembari menikmati angin kecil berhembus
mesra.Berharap agar luka ini cepat kering dan kembali
sediakala.Terantuk,mataku sudah hampir terlelap dan hampir tertutup
sepenuhnya,hampir aku tertidur disana.Tap.. Tap.. terlihat sosok
bayangan orang berlari lari.Mereka sama sepertiku,membawa sejumlah
peralatan dan senjata.Hey!! ternyata dia mencari sasaran yang sama
dengan milikku.Ia sudah berlari secepat mungkin,sementara aku hampir tertidur
lelap disini.Bangun!! Apa tanganmu cuma satu? Kau punya dua tangan
kan? Lalu kenapa kau tak melatih tanganmu yang satunya? Terlintas
sejenak dalam pikiranku kata kata itu.
Sudah
seharusnya aku siapkan rencana lain jika semua yang biasa dilakukan
itu gagal dan tak berbuah.Aku tak mau buruanku diambil orang lain!!
Bergegas kuambil kembali senjataku,aku berlari dan aku lupa bahwa
tanganku sakit.Seorang pemburu handal tak mungkin hanya miliki satu
senjata dan satu rencana.Semua yang ada disekitarnya seharusnya bisa menjadi senjata dikala ia terdesak.Bebatuan,dahan
pohon ataupun segumpal tanah keras yang bisa dilemparkan untuk
menghalau bahaya yang datang menghampiri.Terkadang ia
bersembunyi,bukan karena takut,tapi beristirahat sejenak sambil
berpikir dan merancang strategi agar ia tak mati sia sia sebelum
sampai perjalanan.Nekat dan Berani itu berbeda Nak.Nekat ketika kau
maju ke medan perang hanya bermodal nyali dan tak kau pikirkan
sedikitpun apa akibatnya.Berani ketika kau maju ke medan pertempuran
dengan segala persiapannya,meskipun kau tak punya senjata
apapun,setidaknya kau sudah punya strategi bukan untuk melawan mereka
tanpa senjata? Dan lihatlah dirimu sendiri Nak,termasuk pemburu yang
manakah engkau?
Salam,
Nur
Wahyu W | @NWHYX on twitter