Rabu,
20 Februari 2013
Selasa,
19 Februari 2013.Pekerjaanku hari itu tak banyak,iseng iseng kuisi
waktuku untuk blogwalking
alias ngepoin
blog orang buat cari inspirasi dan melajarin cara orang orang mengisi
blog mereka.Berwarna warni dan beragam isinya,mulai dari
tulisan,desain dan layout yang disajikan,namun perhatianku tertuju
pada sebuah tulisan singkat dan sederhana.Entahlah,aku sudah lupa
milik siapa blog itu dan apa blognya,yang jelas jelas
kuingat hanyalah sebait kalimat dan pesan seperti judul tulisan
ini.Tak masuk akal bukan? Mana mungkin sehelai daun mampu menutupi
dunia yang luas ini? Pikirku juga seperti itu waktu pertama kali aku
membacanya.Ahhh.. mengada ada saja penulisnya,mana mungkin!! Eitss..
tunggu dulu,aku belum membaca sepenuhnya,sebait demi sebait aku baca
dan aku pahami.Finally,aku
hanya bisa tersenyum simpul dan meng-iyakan semua isi tulisannya.
Duduk
termenung dan tertegun.Ternyata aku pernah melakukannya,Ya.. aku
pernah menutupi dunia ini dengan sehelai daun.Daun itu adalah
egoku.Tutup saja kedua mata itu
dengan
daun!! Maka tertutuplah dunia ini untukmu!! Gelap,gulita,bahkan kau
tak mampu melihat dirimu sendiri.Pernahkah kalian juga mengalaminya?
Seperti
rasa benci ataupun suka.Seperti itulah daun itu.Ketika hatimu telah
tertutupi dengan setitik rasa benci kepada orang lain,maka
tertutuplah semua kebaikan kebaikannya.Yang kaulihat adalah sesuai
dengan warna daunmu,daun kebencian.Hitam,kelam dan pekat.Semua terasa
pahit semua terasa memuakkan.Bahkan
kau tak peduli seberapa rusakkah dirimu sendiri hanya untuk
membencinya.Pun begitu
dengan rasa suka ataupun cinta.Ketika jiwamu telah tertutupi dengan
cinta kepada sesuatu,hanya kebaikan,suka dan perhatianlah yang ada
didalam pikiranmu.Bahkan terkadang engkau tak sanggup melihat kedalam
ragamu sendiri,bahwa ia telah pontang panting kepayahan mengikuti
gairah jiwamu yang begitu menggebu gebu.
Tapi
tunggu dulu.. Semua itu tak hanya sebatas itu.Tahukah engkau bahwa
didalam perjalanan hidup kita ini terhampar ribuan daun pintu? Daun
pintu itu adalah kesempatan dan peluang yang terbuka,tapi.. pernahkah
kita merasa bahwa kita hanya memiliki satu pintu saja? Jujur
saja,saya sering merasakannya.Ketika daun pintu yang saya harapkan
itu tertutup,semua serasa buntu dan tak ada jalan lagi.Padahal masih
banyak pintu pintu lain yang membukakan diri untuk kita
lewati.Ataukah kita sendiri yang tak mampu melihat keberadaan pintu
yang lain karena telah terputusnya harap dan asa? Mungkin.Mungkin
seperti itulah kenyataannya.Duduk bersimpuh sembari menangisi diri
sendiri didepan pintu yang telah terkunci rapat rapat bagi
kita,bahkan takkan pernah terbuka lagi.Aihhh.. tololnya diri ini,tapi
apadaya,semua itu sering berada diluar kesadaran dan kendali.
Hey
bodoh!! Bangkitlah!! sambil menggedor gedor pintu yang tertutup
itu.Aku ternganga.Siapa kamu dan kenapa engkau memanggilku bodoh?
Dasar pecundang!! Bangunlah,bergeraklah,carilah dan ketuklah
pintu pintu yang mana
engkau suka,niscaya
kau akan menemukan
pintu yang terbuka lebar untukmu.Senyap.Sosok
itu menghilang begitu saja,aku tak mampu menggerakkan badanku dan
hanya terbujur kaku merasakan sisa sisa sakit didalam ulu
jiwaku.Selemah inikah diriku? Sekonyol itukah diriku? Iya,aku memang
konyol.Bahkan untuk kasus asmara dan percintaan.Ohh..Kuputar kembali
memoriku,masa masa kritis dan retaknya semua cerita manis itu.Sakit
sekali,dan betapa menggelikannya diriku.Meraung raung tidak jelas
didalam kesepian dan kesakitan.Menyesal dan
menangisi.Mengungkapkannya dengan kata kata puitis yang lebih
tepatnya disebut alay.Haa..
Haaa..Culun dan konyol.Tapi begitulah semua itu.Aku gila sesaat,dan
setelah tersadarkan diri,aku tertawa,mentertawakan diriku sendiri.
Semua
itu membuat dunia ini serasa sempit dan sesak,mungkin lebih sempit
dan sesak dari jarum jahit yang hanya bisa dimasuki benang yang
tipis.Dadaku terus sesak dan nafasku tersengal sengal.Pikiranku gelap
dan tertutup,ya! Tertutup oleh daun keputusasaan.Seolah semua ini
sudah berakhir.Seolah hanya ada satu jalan yang berujung
buntu.Tapi,apakah selamanya aku akan seperti ini? Lihatlah
nak,badanmu sudah bertambah kurus.Wajahmu sayu tak
bercahaya.Berjalanmu gontai dan tertunduk seakan kau tak berdaya.Apa?
Lalu apa yang mesti aku lakukan? Diam? Diam saja ha??!! Tiba tiba aku
teringat sosok yang menggedor gedor pintu tadi dan menyebutku
pecundang.Bangkitlah!! Bangkitlah!!.Perlahan aku mulai tegap dalam
berjalan dan secercah harapan nampak didalam pandanganku.Seuntai
cerita kelam tadi biarlah kusimpan dan kupendam.Dan
janganlah kau menggalinya lagi selepas kau pendam,biarkan ia membusuk
dan mengurai bersama sama dengan masa lalumu.Perjalanan masih panjang
Nak,jangan kau tangisi terus bangkai yang telah membusuk.Ia sudah
mati dan takkan pernah bisa kembali.Membawanya kemanapun hanya akan
menimbulkan penyakit dan aroma busuk yang akan menyesakkan dada dan
jiwamu.Bangkai itu seharusnya engkau buang dan pendam sedalam
mungkin.Biarkan ia mengurai bersama gelap malam,hingga ia tiada lagi
digerogoti oleh waktu.Mungkin kalian juga pernah mengalaminya..
Salam,
Nur
Wahyu W | @NWHYX on twitter
Daun telinganya ketinggalan.... >.<
ReplyDelete*abaikan komentar di atas
Nice posting ^^
Iya nih,baru inget tadi pas ke belakang. Hehehe :D
DeleteBtw,makasih ya udah berkunjung dan menyempatkan membaca tulisan saya. Salam kenal :D