Monday, 18 February 2013

Humoris


Senin,18 Februari 2013

Hidup ini sederhana,tapi terkadang banyak masalah masalah yang datang menghampiri.Entah itu ringan maupun berat.Ya,hidup memang penuh masalah,berawal dari masalah inilah yang menguji tingkat kedewasaan dan seberapa siap kita menghadapinya.Tak jarang, orang sampai mengalami depresi,frustasi ataupun sejenisnya karena dirundung permasalahan.Semua orang pasti pernah merasakan dan mengalaminya,hanya saja tiap orang berbeda beda dalam menanggapi setiap masalah yang datang menimpa.Ada yang sangat serius,ada yang bertipe “sersan” (serius tapi santai),bahkan banyak juga yang lari dari kenyataan.

Saya sendiri sebetulnya lebih senang menjadi orang yang bertipe serius tapi santai.Tak terlalu kaku dan lembek dalam menghadapi segala problem yang ada.Dari beberapa pengamatan saya pribadi,banyak orang yang terlalu serius dalam menghadapi segala permasalahannya.Spaneng (kaku- red) dan selalu berkeluh kesah setiap waktu.Orang orang tipe ini biasanya cepat mengalami stress dan depresi.Diajak bercandapun mereka susah.Mereka sering menanggapi serius setiap candaan dan humor.Nggak asik lah! Bahkan untuk menghibur dan menyenangkan hati mereka ketika sedang sedih maupun susah sangatlah sulit dilakukan,karena pikiran yang ada hanya difokuskan pada setiap problema.”Kenapa aku begini?” “Seandainya saja dulu tidak bla bla bla” dan sejenisnya.Mau tidak mau,si penghibur cuma bisa menghibur saja dan tidak memberi efek sama sekali.Orang seperti ini sudah “asyik” dengan dunianya sendiri,seakan akan ia hanya hidup sendiri di dunia ini dan seolah olah dunia itu kejam dan mendiskreditkan dirinya.

Untuk tipe yang kedua adalah tipe serius tapi santai.Saya pribadi sangat suka dengan tipe tipe seperti mereka.Mereka pandai menyembunyikan segala keluh dan kesah.Mereka terkadang bersifat humoris,dan malah sering menghibur orang lain walaupun dirinya sendiri sedang dalam keadaan kepayahan dan kesusahan.Salut! Jangan salah,mereka yang terlihat humoris,santai ataupun sebagainya jangan dianggap tidak mempunyai masalah dalam kehidupan mereka.Mereka juga manusia.Mereka punya problem,mungkin sama seperti yang kebanyakan orang lain alami.Tapi dibalik itu semua,mereka tak terlalu mengambil serius segala sesuatu yang menyusahkan dan menyesakkannya.Dibikin santai saja,ndak edan! kata anak anak zaman sekarang.Bergaul dengan mereka sangat menyenangkan,mereka lucu,humoris,kocak dan smart.Bahkan terkadang saya tidak menyangka,orang orang kocak dan konyol sebagian dari mereka adalah orang orang hebat dan orang orang besar.Memang,kebanyakan orang orang besar selalu bersembunyi dibalik topeng kesederhanaannya.Mereka juga jarang mengeluhkan dan bercerita tentang problematik hidupnya.Kalaupun pernah,itupun jarang sekali dilakukan dan selalu diselingi dengan gelak tawa.Terkadang mentertawakan segala permasalahan yang ada,agar semua tak terasa berat dan menyesakkan.

Senyum,tawa dan canda memang dapat mengurangi beban psikologis seseorang.Dengan senyuman tersungging di bibir,wajah seseorang tampak lebih menarik dan enak dipandang.Berbeda dengan orang yang selalu serius,cemberut dan merasa susah setiap saat.Wajah wajah mereka terlihat lusuh,kuyu dan layu,mirip seperti bunga yang seharusnya nampak menawan namun telah layu karena kurang nutrisi.Mereka yang humoris biasanya selalu menampakkan wajah ceria,menyembunyikan segala susah dan gundahnya dibalik selera humor dan senyumannya.Kenapa harus terlalu serius kalau problemnya bisa diatasi dengan cara yang santai? Terkecuali ada beberapa hal memang yang tidak bisa dijadikan bahan candaan dan guyonan.Saya pribadi juga tidak suka mengusung hal hal yang sensitif untuk dijadikan bahan humor,seperti masalah Agama,Rasisme,atau dulu zaman SMP ada semacam bercandaan ejek ejekan orang tua dan profesinya.Saya tidak pernah bisa tertawa maupun tersenyum untuk hal hal semacam ini,karena semua itu menurut saya memang tidak pantas dijadikan bahan tertawaan.Sesuatu yang seharusnya dihormati dan dijaga.Bayangkan saja,sudah banyak kejadian untuk humor yang mengangkat tema semacam itu dan akhirnya banyak pihak pihak yang tersinggung dan merasa dirugikan.Akhirnya terjadi perpecahan dan konflik berkepanjangan.Benarlah memang,segala sesuatunya harus dipikirkan matang matang terlebih dahulu,termasuk masalah guyonan,bagaimana agar tidak menyinggung dan melukai perasaan orang lain.Bisa dibilang ada batas kewajaran didalam humor tersebut.Memang,ada orang orang yang menganggap semua lelucon itu biasa,tapi tidak semua orang bisa menerimanya,karena setiap orang memiliki karakter dan sensitivitas yang berbeda dalam merespons segala sesuatunya.Salam humoris!

Friday, 15 February 2013

Mahal?

Jumat, 15 Februari 2013

Baru baru ini saya mendapatkan sebuah pengalaman dan pelajaran yang terbilang berharga.Sebenarnya pengalaman ini sudah pernah saya alami di 2 kejadian sebelumnya,berbicara tentang kualitas barang/jasa.Kebanyakan diantara kita jika hendak memilih dan membeli barang,pasti yang pertama dilirik adalah dari segi harga.Ya,murah! Itulah yang seringkali terbesit di benak para calon customer.”Cari barang murah dan bagus” begitulah kalimat yang sering saya dengar,tak luput pula dari diriku sendiri.Di zaman sekarang,banyak produk produk murah ditawarkan,terutama produk produk China,ataupun produk KW.

Berawal dari pengalaman membeli sebuah sandal,saya mencari sandal yang modelnya bagus dan berharga agak miring.Entahlah saya sendiri lupa brand sandalnya.Saya pakai beberapa bulan,dan setelah itu putus talinya,yang tentu saja sudah tak bisa dipakai lagi.Kejadian berikutnya adalah ketika saya membeli sebuah jam tangan di pasar malam alun alun utara kota Jogja.Keren saya pikir,modelnya sporty,tapi setelah saya pakai beberapa kali,cat hitam sudah mengelupas,terkesan seperti belang.Berangkat dari situ,saya mulai menabung dan setelah cukup,kemudian dibelanjakan sandal dan jam dengan brand yang terpercaya,harganya sangat jauh berbeda dengan harga barang yang sebelumnya.Sampai hampir kurang lebih satu tahun pemakaian jam tangan,masih awet,dan itupun hanya rusak sekali karena saya tak sengaja menjatuhkannya.Begitu pula dengan sandal,masih awet walaupun sudah berbulan bulan dan nyaman dipakai.

Baru baru ini saya membeli perangkat gadget baru,saya samasekali tak mengingat dua peristiwa penting diatas.Rupanya saya tergiur dengan spesifikasi dan harganya cukup dikantong.Siang itu saya berjalan jalan di pameran komputer yang rutin diadakan beberapa bulan sekali di Jogja Expo Center.Tanya sana tanya sini,akhirnya saya membeli gadget produk China.Seperti kebiasaan,ketika membeli sesuatu,pasti saya lakukan testing di semua lini.Tujuannya adalah untuk mengetahui,apakah ada cacat ataupun kerusakan,sehingga kalaupun terdapat cacatnya,masih bisa ditukarkan dengan barang yang baru.Kebiasaan ini sebenarnya juga bermula dari peristiwa di tahun 2010.Ketika itu saya membeli gadget baru yang harganya lumayan menurut ukuran saya,brand ternama,sejuta umat pemakainya.Dicoba di toko,hasilnya kelihatan bagus dan sepertinya tak ada masalah berarti,sesampainya di rumah,ternyata ada kendala serius,hang! Saya minta barangnya ditukar dengan yang baru,tapi si empunya toko ini tidak memperkenankan,dan meminta saya membawa ke service centernya.Setelah itu saya turuti permintaannya,saya bawa kesana.Dua hari kemudian kembali,trobel lagi,begitulah seterusnya hingga beberapa kali saya bawa kesana dan butuh waktu kurang lebih sebulan untuk memperbaikinya!

Kembali ke cerita diatas,setelah saya bayar dan saya bawa pulang unitnya.Saya tes hampir semuanya OK,terkecuali baterai yang memang drop dan tak bisa penuh 100%.Saya tanyakan ke kawan kawan kantor yang banyak juga pemakai Operating System yang sama,apa memang begini setelah dicharge? Ternyata tidak.Saya kembali ke stand pameran,penjaga toko bilang bahwa itu batreinya saja yang drop dan saya ditawari untuk diganti batreinya saja.Tidak! Saya mau unit dan batreinya baru semua.Pihak penjual menyetujui,lalu saya coba dan ternyata tetap sama.Kali ini saya harus merujuk ke toko pusatnya langsung.Saya diberi pilihan untuk mengganti dengan unit baru beda seri dengan harga yang sama.OK! Saya setuju.Setelah saya pakai tiga hari tak ada masalah,bateraipun OK,tidak ada drop lagi.

Saya biasa membawa gadgetnya ke kantor,siang hari saya manfaatkan hotspot kantor untuk coba coba dan sedikit ngulik ulik.Sorenya saya bawa pulang dan saya pakai seperti biasa,tiba tiba ada satu fiturnya yang nggak jalan,semua cara saya coba,tetap tidak bisa aktif.Akhirnya keesokan paginya,via chatting saya tanyakan ke customer service pusat langsung,dan ternyata memang ada kerusakan.Satu hal yang memberatkan saya lagi,yaitu saya harus kembali lagi ke tokonya,kali ini saya minta ganti dengan brand lain yang lebih terpercaya atau saya minta uang saya kembali.Permintaan saya disetujui,karena untuk uang kembali itu prosesnya sulit.Akhirnya saya dapatkan gadgetnya.Dari semua hal hal diatas,saya memetik pelajaran,bahwa ketika kita ingin memiliki barang ataupun menggunakan jasa,sebaiknya pilihlah yang berkualitas walaupun harganya diatas rata rata.Seperti kata perusahaan Apple,kenapa laptop mereka tak ada yang berharga dibawah $ 1,000 USD? Karena mereka mementingkan kualitas,daripada membuat laptop berharga murah tapi kualitasnya rendah.Coba saja dikalkulasi,ketika menggunakan barang/jasa berkualitas rendah,cepat rusak dan harus service ataupun diganti,itu justru malah membuang uang dan waktu lebih.Bukankah alangkah lebih baiknya membeli barang berkualitas tapi awet? Masih bilang mahal?

Tuesday, 5 February 2013

Serahkan pada ahlinya!


Selasa, 5 Februari 2013

Akhir akhir ini marak terjadi kasus yang santer diberitakan oleh media massa.Narkoba,korupsi ataupun kasus kasus lainnya yang cukup membuat geger di kalangan masyarakat.Saya sendiri adalah orang yang tidak terlalu sering menonton berita di televisi maupun radio,lebih sering mengikuti media massa melalui internet,terlebih twitter.Semenjak berita dan kasus itu mencuat,banyak yang saya amati di timeline twitter saya yang menjadi semacam pengamat kasus.Ada yang memberi review,ada yang membela,ada yang menghujat dan berbagai macam lainnya lengkap dengan segenap argumen-argumennya.Bahkan ada juga yang mensinkronisasikan antara kasus yang satu dengan yang lainnya,hingga ada yang menyebut bahwa itu adalah teori konspirasi.

Teori konspirasi,sering terdengar memang,tapi entahlah apa itu dan  apa yang sesungguhnya terjadi.Saya tidak cukup tahu teori konspirasi dan kasus kasus yang diangkat media ke permukaan.Mungkin bisa dibilang hanya sekedar tahu kulit luarnya saja ataupun gambaran umumnya.Saya lebih berusaha sekuat mungkin untuk tidak ambil andil dalam hal hal yang tidak saya ketahui kebenaran dan asal usulnya,karena saya memang bukan pakar dibidang  tersebut.Satu pepatah mengatakan “The right man on the right place” yang kurang lebih berarti: tempatkanlah orang yang tepat di tempat/bidang yang tepat.

Benarlah kata pepatah diatas,menempatkan orang yang tepat sesuai bidangnya akan lebih produktif dan efisien.Lalu apa hubungannya dengan kasus kasus tadi? Coba tengok ke dalam diri sendiri,terkadang kita seringkali ikutcampur dan ambil andil dalam memvonis perkara.Si A begini dan begitu,pasti ada konspirasi ataupun kongkalikong dibelakangnya.Sering? Tapi tunggu dulu,apakah vonis yang kita jatuhkan itu benar adanya? Atau hanya sekedar merunut arus yang sedang ramai dibicarakan orang? Yah,sebelum ada bukti yang nyata,itu hanya bisa dibilang praduga,dalam kenyataannya belum bisa dipastikan sisi kebenarannya.Hal hal seperti inilah yang membuat permasalahan itu semakin runyam.Ketika seseorang yang samasekali tak tahu perkara dan hanya asal berucap mengambil bagian,itulah sebenarnya sumber keruwetan.

Sebaiknya memang diam,tapi diam bukan berarti tak peduli.Diam untuk tidak ikut memperkeruh suasana yang sudah keruh.Coba amati lagi ketika kasus sedang panas panasnya,tak jarang yang menghujat,membela atau bahkan membicarakan keburukan keburukan orang yang diduga bersalah,tak terkecuali saya sendiri.Bukankah dengan begitu media telah berhasil menggiring para pemirsa untuk membicarakan keburukan dan kejelekan orang lain? Ada sebuah kejadian menarik yang kembali mengingatkan untuk tidak sok tahu dalam hal dimana kita tak memiliki ilmu tentangnya.Beberapa bulan lalu,saya diminta oleh atasan saya untuk memperbaiki laptopnya yang rusak.Saya amati sebentar,ternyata problemnya tidak terlalu susah menurut saya,lalu beliau bertanya penyebab kerusakan pada laptopnya.Saya jelaskan,dan saya coba ceritakan langkah langkah memperbaikinya seperti ini dan seperti ini,mudah.Beliau kemudian berkata: “saya manggil kamu kesini karena saya tidak mengerti untuk hal hal semacam ini,saya tahu diri-lah,tolong diperbaiki ya.” Dari perkataan beliau ini,saya belajar bahwa benar adanya seperti itu.Bayangkan saja ketika atasan saya ini mencoba memperbaiki sendiri laptopnya tanpa dasar dan ilmu yang memadai,justru malah akan membuat rusaknya semakin parah dan biayanya semakin mahal.Benarlah memang kata kata: serahkan pada ahlinya!

Salam,

Nur Wahyu W

Wednesday, 30 January 2013

Harta & Kesenjangan Sosial

Rabu, 30 Januari 2013

Sudah tak asing lagi di telinga kita mendengar judul diatas.Suatu hal yang banyak diperebutkan oleh manusia.Memang tak bisa dipungkiri,ia seperti bahan bakar yang dibutuhkan bagi berlangsungnya kehidupan.Di era seperti ini,harta mampu menaikkan prestise seseorang dalam perspektif orang lain.Semakin banyak harta dikumpul,semakin tinggi pula sepertinya prestise yang ia sandang.Dalam konteks materi,bentuknya beragam,seperti uang,perhiasan,properti atau barang barang berharga lainnya.Mungkin ada sebagian yang berfikir bahwa harta adalah salah satu sumber kesenangan.Memang,dengan itu semua,kita mampu membeli barang barang yang kita ingini,maupun membantu sesama makhluk untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka.Namun di sisi lain,ia juga memiliki bagian gelap dari semua itu,yang mungkin secara implisit jarang terlihat dan diusung,yaitu pemicu konflik dan kericuhan.

Harta khususnya berupa materi,memang layak diibaratkan bak pedang bermata dua.Satu sisi membawa kemaslahatan bagi pemiliknya,ataupun justu yang akan menjadi senjata makan tuan,yang akan menghabisi pemegangnya.Baguslah jika harta ini mampu membawa kemaslahatan bagi diri sendiri ataupun bagi kepentingan umat,tapi satu hal yang cukup pelik dibalik itu semua adalah ketika harta menjadi sumber kericuhan dan konflik.Sepertinya memang sudah banyak kasus kasus semacam ini,mulanya berawal dari rasa iri kepada orang lain yang nampaknya rumput milik tetangga terlihat lebih hijau dan segar,rumahnya lebih terlihat mewah dengan berbagai macam property menghiasi di setiap sudutnya.Namun cobalah perhatikan lingkungan di sekitar sabana yang menghijau tersebut,di sekitarnya masih ada tanah tanah yang gersang nan tandus,bahkan dedaunanpun tampak layu disana.Disitulah kisah itu bermula.

Kesenjangan sosial,ketika seseorang merasakan iri hati melihat sesuatu yang lebih wah daripada apa yang ia miliki saat ini.Timbullah rasa ingin tak terperi yang mempertanyai hati: kapan diri ini miliki semua itu? Sakit! Ya seperti itulah adanya,dan yang pertama kali terserang adalah hati,yang mengakibatkan rasa nyeri luar biasa bersebab keinginan yang meluap luap namun sarana dan pendukung untuk semua itu belum ada,lalu mau apa? Akibat yang sering dirasakan adalah stress,depresi maupun frustasi berat dan hal hal semacamnya.Berat memang ketika harus bersanding dengan sesuatu yang lebih glamour daripada yang kita miliki,tentu rasa iri dan ingin selalu berkelebat sepanjang mata memandang.

Sudah banyak hal hal seperti ini menimpa di beberapa kalangan.Lalu timbullah pertanyaan dari dalam diri sendiri,dari hati nurani: “apakah saya juga merasakan hal yang sama ketika saya melihat sesuatu yang lebih wah dari semua apa yang saya miliki?” Tentu! Hatiku berkata sedemikian.Memanglah,tak bisa ditepis lagi ketika kita masih punya keinginan dan harapan akan sesuatu yang lebih daripada yang ada sekarang,wajar! Lalu apanya yang tidak wajar? Akalku kembali berceletuk.Sesuatu yang tak wajar dibalik itu semua? Penyebab sakitnya hati ketika kita berkeinginan lebih? Mungkin kurangnya bersyukur? Atau sedikitnya sifat qana’ah(berkecukupan) atas semua pemberian dari-Nya? Mungkin itu semua bisa menjadi faktor faktor pendukungnya.

Manusia memang tiada puasnya.Betul,ini bisa berarti baik ataupun sebaliknya.Tiada puasnya berarti baik ketika itu tertuju pada ilmu yang dicari,kemanfaatan pada diri sendiri dan ummat yang terus serasa masih belumlah apa apa.Ini juga bisa berarti petaka,kala semua pemberian dari-Nya dirasa kurang,kurang dan kurang.Sedemikian serakah dan tamakkah? Kalau sudah begini,segala cara akan dilabeli “halal” asal senang,asal dapat tak peduli apakah ada pihak pihak lain yang merugi.Asal bapak senang! Caplok sana caplok sini,harta bertambah dan berkelimpahan,tapi sayang semua itu tiada berkah.Tak bisa disangkal lagi perkataan diberi segunung emaspun masih kurang.Terbesit kembali tanya menyapa: “apakah diriku ambil bagian dari orang orang itu?” Berdesah sejenak aku menerawang kedalam diriku sendiri,berkaca dan kulihat.Lihatah rasa inginmu,yang lebih mendominasi dari rasa butuhmu! Hatiku membentakku keras seperti itu.Lihatlah lagi barang barang di kamar dan gudangmu,banyak yang tak kau pakai,lalu untuk apa dahulu engkau membelinya? Hmmpphh.. aku menghela nafas panjang tak mampu menjawab semua pertanyaan itu dari dalam diriku sendiri.Aku linglung.Biarlah aku sendiri yang menjawabnya.

Dari semua paparan diatas,sebagian memang menginginkan harta materi yang banyak,yang melimpah,agar semua apa yang diingini didapati,terturuti.Tapi belumlah tentu ketika semua materi berlimpah lalu semua yang diingini didapati.Terkadang terlupakan hal hal yang harganya lebih mahal daripada materi,seperti rasa persaudaraan,kekeluargaan,kesehatan,maupun hal yang sangat mahal harganya: ketentraman dan ketenangan.Terlalu sempit jika berpandangan bahwa harta hanya sekedar materi belaka,memang benar itu semua termasuk dalam kategori harta,tapi hanya cukupkah semua itu sampai disitu? Tidak! Bahkan banyak orang yang hidup tak berkelimpahan mampu merasa bahagia dengan kesederhanaanya.Bukankah sederhana itu bersahaja? Cukuplah tulisan ini menjadi pengingat terutama bagi diriku sendiri,agar tak terlampau bersilau harta.Semoga selalu dilimpahkan rasa berkecukupan pada semua yang telah dilimpahkan oleh-Nya dan selalu mensyukurinya.Aamiin.

Momentum,Teknik & Latihan

Selasa, 19 Juni 2012

Akhir akhir ini saya punya hobi baru yaitu panjat dinding.Semenjak dibangun wall climbing disamping rumah,si empunya ini masih saudara dengan saya dan dia adalah atlet panjat dinding jenis boulder tingkat nasional.Wallnya tidak terlalu tinggi,sekitar 5-6 meter dengan 4 jalur yang tingkat kesulitannya berbeda beda.Di setiapjalur dipasang berbagai jenis point,mulai dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar.Point adalah batuan yg ditempel di wall/dinding sebagai pegangan atau pijakan untuk memanjat.Dalam jenis panjat dinding boulder,tingkat kesulitannya bukanlah diukur dari seberapa tinggi anda mampu memanjat,tapi sejauh mana pemain menyelesaikan melalui jalur yang ditentukan hingga ke top point(point puncak) atau finish point. 

Beberapa hari yang lalu,saya diajak oleh adik dari saudara saya ini untuk latihan memanjat.Adik keponakan saya ini tergolong pandai memanjat,karena latihan yang dia lakukan sudah lumayan lama.Singkatnya,siang itu kami berlatih 3orang.Kami menggunakan jalur boulder yang menggunakan roof(atap),yang mengharuskan pemanjat menggelantung di roof untuk sampai ke top point.Adik saya ini memberi jalur atau lintasan mana saja yang pointnya harus dipegang.Tidak saya sangka,ternyata jalur yang diberikannya terbilang susah apalagi untuk anak kecil seumuran dia,dia masih kelas 5 SD.Jalurnya adalah mulai dari start point dinding lurus kemudian point selanjutnya adalah 2 point di roof top yang jaraknya terbilang jauh.Disitu pemanjat diharuskan jump(loncat) supaya bisa sampai ke point selanjutnya. 

Rekan saya mencoba untuk pertama kali, "hap" ia meloncat dan gagal,hanya menyentuh pointnya saja,tidak terpegang.Kemudian giliran saya,"hap" sayapun meloncat dan sayapun gagal,bahkan saya hanya menyentuhnya saja,tidak sampai mencengkramnya.Kemudian adik saya ini mencoba,"hap" dapat!! hanya dalam sekali percobaan!! wah,bagaimana mungkin dia bisa melompat sejauh itu dan mencengkram point selanjutnya?padahal rentang tangannya saja lebih pendek dari rentang tangan saya.Kemudian saya mencoba lagi,lagi dan gagal lagi,hanya menyentuhnya.Akhirnya,pada percobaan selanjutnya,ketika saya mau loncat dari posisi start,adik saya ini berkata "mas,timing mas,tentukan momentum yang tepat buat mencengkram point,lihat dulu point targetnya,konsentrasi,pointnya ada 2,gunakan 2 tangan untuk mencengkram,loncat,lalu tentukan timing yang pas buat mencengkram". Saya pikirkan kata kata adik saya ini,saya memang asal loncat sebelumnya,dan hanya menggunakan satutangan untuk menjangkau point selanjutnya.Akhirnya saya coba lagi,konsentrasi dan tentukan timing yang pas,dan "hap" sekali loncat,akhirnya saya mampu menggenggam ke-2 point selanjutnya."Wah,benar juga anak ini,ternyata semua yang dieksekusi disaat timing(momentum) yang tepat itu membuahkan hasil yang lebih maksimal."

Setelah memegang point ke-2 dalam posisi menggelantung,saatnya melanjutkan ke point ke-3,saya mampu menggenggamnya,karena pointnya tergolong enak buat dipegang,namun saya kesulitan dalam memindahkan tangan saya yang satu lagi(transfer).Akhirnya tenaga saya habis di point ke-3,kemudian terjatuh.Kemudian adik saya ini berkata lagi,"mas,tangannya ditumpuk dulu di satu point,kalau sudah ditumpuk,lalu pindahkan tangan yang satunya kepoint selanjutnya,supaya lebih mudah nanti transfernya".Oke,saya turuti kata adik saya ini,ternyata memang lebih "ngirit" tenaga.Tapi itupun masih salah,saya masih salah dalam hal"posisi tangan dan jari dalam memegang point". Wah,ternyata,memegang batupun ada tekniknya,tak sembarang memegang.Anak ini mencontohkan lagi dengan peragaan tangannya,bagaimana memegang point yang benar.Saya coba lagi,dan benar,pegangannya lebih erat,enak,dan irit tenaga. Semua keahlian,ternyata ada tekniknya(ilmunya) supaya bisa lebih cepat dalam penyelesaian dan mencapai tujuan. Memang bisa mencoba coba sendiri hingga menemukannya,tapi butuh waktu lama untuk memahami,dan lebih cepat kalau tahu ilmu dan teknik mengeksekusinya. 

Saya masih terbilang pemula dalam olahraga ini,belum lama saya memainkannya,itupun karena arena wall climbing ini ada didepan rumah.Dulu saya tidak tertarik sama sekali dengan olahraga ini,saya lebih senang bermain basket dan sepakbola.Tapi,semenjak arena ini dibuka,ada rasa ingin mencoba sesuatu yang baru,sepertinya menantang.Saya melihat atlet atlet kawakan memanjat saat acara peresmiannya.Sayapun berpikir,ini sepertinya mudah,hanya memanjat,yang tidak terlalu tinggi,sepertinya saya juga bisa.Setelah acara opening selesai,saya sendiri coba memanjat,ternyata anggapan saya semuanya itu salah.Sesuatu yang saya lihat dan anggap mudah itu sulit sekali ternyata.Bahkan saat saya mencoba di jalur paling mudahpun,saya tak mampu mencapai puncak,tangan saya sakit semua,tangan menjadi cepat keras dan kehabisa ntenaga.Setelah itu saya sering berlatih disitu,bertanya,dan diberi masukan bagaimana memanjat yang benar.Mulai dari memegang point,posisi badan,posisi kaki,cara mengambil point selanjutnya dan lain lain.Memang terasa perbedaannya setelah lama berlatih,saya jadi tahu,bahwa posisi kaki yang salah itu akan menyulitkan kita dalam melangkah ke point selanjutnya,begitupun cara memegang point,posisi badan,tangan,dan sejenisnya.Akhirnya,saya mampu mencapai top point setelah lumayan lama berlatih.  Inti dari semua itu adalah latihan. Kalau melihat atlet memanjat,memang terlihat sangat mudah,karena mereka sudah latihan bertahun tahun lamanya. Mereka ahli karena sering berlatih. 

Dari olahraga ini,ternyata ada beberapa pelajaran yang bisa diambil: 
1) Timing atau Momentum : semua yang dieksekusi disaat timing(momentum) yang tepat itu membuahkan hasil yang lebih maksimal. 
2) Ilmu atau Teknik : semua keahlian,ternyata ada tekniknya(ilmunya) supaya bisa lebih cepat dalam penyelesaiandan mencapai finish 
3) Latihan : Membutuhkan latihan dan jam terbang yang terbilang lama,bahkan bertahun tahun untuk menjadi ahli dalam suatu bidang.

Rasa Suka & Benci

Jumat, 18 Januari 2013

Pagi hari yang romantis, curah hujan tak begitu deras.Proporsional,dibalut dengan hawa dingin ala pegunungan dan dihiasi putihnya kabut nan tak begitu pekat.Selepas mandi,hawa dingin masih saja menyelimuti sekujur tubuhku.Kembali aku terbaring diatas sebuah kursi memanjang yang diletakkan oleh ibuku disamping ruang keluarga.Kutatap hujan pagi ini,nikmat sekali rasanya,begitu besar karunia dan anugerah-Nya.Alhamdulillah.Kali ini aku tak menjalankan rutinitas pagiku seperti biasa,menyapu halaman rumah,ataupun menyalakan mesin motorku untuk sekedar memanaskan sendi sendi mesin motorku di luar rumah.Hujan masih turun berderai,dan tubuhku kali ini terasa sangat menggigil.Kualihkan perhatianku tuk melepas dingin,sembari kupersiapkan kebutuhan adikku yang paling kecil untuk berangkat sekolah.

Jam dinding rumahku menunjukkan pukul 07.00 ketika aku membuka pintu rumahku selepas menghantar adikku sekolah.Aku kembali duduk di kursi memanjang disamping ruang tamu itu,kutatap sederetan buku yang ada di dalam rak buku kecil dengan 4 celah untuk menyimpan buku buku koleksi kami sekeluarga.Masih segar terasa buku yang baru saja aku beli beberapa hari lalu di sebuah toko buku langgananku.Shaid Al-Khatir,begitu judulnya,dengan gambar sebuah pena di sampul depannya dan sebuah peta yang sepertinya itu adalah peta Negara Irak waktu itu.Buku ini cukup menyita perhatianku,berisi nasehat nasehat penyegar Iman.Penulisnya pun cukup termahsyur di kalangan penulis dan ulama ,beliau adalah Ibnu Al-Jauzy.Lembaran demi lembaran kubuka,kubolak balik buku terjemahan karangan beliau.Kubaca meloncat loncat dan tidak berurutan,hingga aku menemukan sebuah bab menarik,bertuliskan besar di tengah tengah halaman "Menyembunyikan Rasa Suka dan Benci"

Ketertarikanku pada bab ini bukanlah tersebab judulnya,sebuah kutipan dengan tulisan lebih besar dan tebal yang menghiasi halaman 447 buku terbitan Darul Uswah ini.Terkutip seperti ini: "Bila tertawan oleh kecantikan seorang wanita,engkau wajib merenungkan sifat-sifat batinnya terlebih dahulu sebelum engkau mencintainya dengan cinta yang sesungguhnya". Terus saja kubaca bab ini hingga akhir.Menarik sekali pikirku,aku masih terngiang ngiang dan terpikirkan akan makna kalimat ini.Sejenak aku termenung,menyibak kedalam diriku sendiri dan bercermin tuk merefleksikan diri akan pesan tersebut.Hmm.. Aku berulang membacanya sepotong demi sepotong: “Bila tertawan oleh kecantikan seorang wanita.. “ Mayoritas lelaki,bahkan diri pribadi,akan cenderung suka dengan wanita yang cantik.Wanita cantik tampak menarik di mata seorang pria,karena keelokan rupa ataupun raganya.Hampir sering kujumpa, setiap lelaki pasti menginginkan wanita cantik untuk menjadi kekasihnya,semua itu tak luput ketika kuberjumpa dengan diriku sendiri.

“…engkau wajib merenungkan sifat sifat batinnya terlebih dahulu…” terbaca berulang kutipan itu, hingga tertahan di kalimat tersebut.Lagi lagi benar apa yang beliau pesankan.Mencintai bukan hanya masalah fisik.Bukan hanya sekadar rupa dan raga,itu semua hanyalah kulit luarnya selaku penghias dan perwujudan riil eksistensi keberadaan.Manusia memiliki jiwa,batin,dan segala aspek yang tak mampu terlihat oleh mata lahiriah,namun ia mampu dirasa dengan hati.Merenungkan sifat sifat batinnya,apa yang beliau tekankan disini adalah pilar pilar yang perlu diperhatikan,terutama perhatikanlah Agamanya.Benar adanya,ketika seorang (tak hanya wanita,begitupun lelaki) memahami akan agamanya,ia akan mampu mengarungi hidup ini dengan penuh kematangan dan kemantapan.

Sampailah pada penghujung kutipan “….sebelum engkau mencintainya dengan cinta yang sesungguhnya”..Cinta yang mulia,ketika mengajak menuju ke jalan kebaikan.Cinta yang dibingkai dalam mahligai pernikahan.Cinta yang tak semu,seperti semunya senja di sore hari yang lekas berganti gelapnya malam.Cinta yang berada di pertengahan,tak terlalu dan tak berkekurangan.Terlampau banyak makna cinta dan pembahasannya yang tak akan habis berujung.Sebuah gubahan syair yang entahlah siapa beliau bernama ,tertuliskan dengan indah yang bermakna kurang lebih: Jika engkau mencintai kekasihmu,maka jangan tampakkan cintamu padanya,hingga engkau mengetahui kebaikan kebaikannya.Eksplisit sekali makna nan sangat mendalam dari syair ini.Jangan terlalu mencinta dan jangan terlampau membenci,begitu tertulis ulasan dibawahnya.Sesosok yang tercinta tak jarang berubah menjadi musuh yang membahayakan,dan sesuatu yang dibenci terkadang beralih menjadi yang terkasih.

Benarlah ketika mengambil sesuatu itu jalan tengahnya.Berkecukupan.Banyak terambil makna dari pengalaman pengalaman di sekitar atau mungkin lebih dekat lagi melongok kedalam diri sendiri akan peristiwa yang tergambar dari isi syair tersebut.Sering atau bahkan berkali kali tartambat rasa benci dalam diri bersebab kecewa pada sesuatu yang dicinta,hingga semua rasa itu berubah drastis menjadi bara api kebencian di dalam dada.Pun sebaliknya ketika tertanam rasa benci kepada sesuatu,lalu semua itu terubah menjadi mahligai cinta nan begitu indah tersebab telah pahamnya akan makna kepada yang dibenci.

Berpikir & Bertindak

Kamis, 17 Januari 2013

Sebuah kenyataan yang sering terabaikan,betapa menunjukkan lemahnya diri ini.Tindakan besar yang sudah sepatutnya dilakukan sebelum melakukan hal hal yang hendak dilaksanakan: “Berpikir”.Berpikir akan konsekuensi tindakan,apapun itu.Apakah menuai manfaat,atau justru merugikan diri sendiri bahkan orang lain,ataupun tak bernilai apapun.Terlampau sering kita bertindak terburu buru,hingga tak memahami apa akibat dari semua perbuatan tersebut.Bertindak ataupun mengambil keputusan tanpa dilandasi ilmu bagaikan berjalan di tengah kegelapan tanpa membawa suatu penerang apapun itu.Samar samarpun tidak,tak ada sesuatupun yang nampak di mata,karena ketiadaan cahaya yang menerangi.Hanya meraba raba,hanya mengira ira,dan hanya merasa rasa tanpa suatu kejelasan apa yang kita raba,apa yang kita kira ataupun apa yang kita rasa.

Berpikirpun masih memerlukan proses.Proses yang membutuhkan penggerak yang benar benar mampu menggerakkan agar berjalan di jalan yang sudah seharusnya.Ilmu.Memanfaatkan ilmu sebagai motor dalam berpikir agar ia berlangsung sesuai dengan kaidah dan tata cara yang sudah seharusnya dilalui,tentunya sesuai keinginan dan tujuan semula,hingga buahnya nanti bermanfaat bagi kemaslahatan khalayak ataupun sejelek jeleknya adalah tidak merugikan orang lain.Acapkali terjumpa keadaan dimana sangat mendesak dan sangat dibutuhkan saat itu juga untuk mengambil sebuah tindakan,hingga lupa akan konsekuensi dari keputusan yang kita ambil.Konsekuensi jangka pendek,dan konsekuensi jangka panjang.Dalam konteks konsekuensi jangka pendek,perbaikan bisa dilakukan lebih cepat,karena hasil bisa langsung diketahui,kalaupun ada kerusakan yang terjadi akibat itu semua,toh ia juga masih mampu diperbaiki,karena belum terlampau parah ataupun jika memang sudah benar benar rusak,ia bisa secepatnya diganti agar tak menjalar ke tempat lain.Dari hal ini juga mampu diambil pelajaran,agar tak terulang kembali di waktu mendatang.Namun,berbeda dengan konsekuensi jangka panjang,yang menggerogoti dan merusak sedikit demi sedikit hingga lumpuh,yang melenakan kita karena ketidaksadaran bahwa ia “nampak baik baik saja” namun sejatinya ia sedang dalam kerusakan.

Hal hal semacam ini terlampau sering saya jumpai.Ini pengalaman pribadi,ketika semasa masih bekerja sebagai seorang customer service.Tentulah kita tahu,bahwa customer service haruslah memberikan perhatian yang lebih kepada pelanggan,bahkan saat pelanggan tersebut kecewa dengan produk yang kita jual.Sebuah nasihat “Pelanggan adalah Raja” benar adanya.Dalam suatu waktu,kondisi ini benar benar membuat dada sesak dan terasa sempit.Gangguan besar terjadi hingga semua produk berupa jasa yang dijual oleh perusahaan di tempat saya bekerja tidak berjalan semestinya.Tiga telepon sekaligus berdering,dan suara yang akan keluar dari telepon itu sudah bisa saya tebak,komplain! Kala itu saya standby sendirian,waktu sudah memasuki lewat tengah malam.Rasa kantuk,emosi,was was dan panik hinggap dan menyatu dalam tubuh dan pikiran.Berpikir jernih tentu hal yang sangat susah dilakukan dalam waktu waktu seperti ini.Belum lagi saya harus berpikir bagaimana solusi dari semua masalah ini.Yang terlintas di pikiranku pertama saat itu adalah memberitahu pelanggan,bahwa kami sedang mengalami gangguan dan sedang kami atasi.Perlahan aku mulai mengatasi semua problem ini,dalam keadaan was was dan serasa diancam ratusan pelanggan kami yang mulai naik darah.Cepat! pikirku,namun aku selalu gagal melakukannya.Kegagalan demi kegagalan akhirnya kutemui juga titik terangnya.Kulihat jam dinding kantor,butuh waktu lama ternyata.Sedikit lega karena setidaknya gangguan ini mulai reda dan konsumen tak marah marah lagi di telepon.

Beberapa hari berlalu setelah kejadian ini berlangsung.Supervisorku menyambangiku dan beberapa kawanku selaku juniornya.Ia memberikan semacam wejangan kepada kami: “Tenanglah dan layani konsumen sebaik mungkin” begitulah inti pesannya,seingatku hingga saat ini.Bahkan ia juga mengatakan sebuah kalimat unik: “Panic Management” sebuah trik untuk mengatasi rasa panik ketika gangguan gangguan besar yang melibatkan klien hingga ratusan jumlahnya,apalagi pelanggan pelanggan yang mengkonsumsi jasa perusahaan yang bernilai ratusan juta,WAH! Sekali komplain bikin kuping panas,kata kami sambil terkekeh.Aku dan kawan kawanku cukup mafhum untuk pelanggan semacam mereka,karena jika jasa kami berhenti beroperasi ataupun tidak berjalan dengan semestinya beberapa saat saja,mereka harus menanggung kerugian yang besar. Panik,merupakan momok bagi kami kami yang baru,bahkan seorang senior yang sudah puluhan tahun bekerja disana masih saja merasakan hal ini,walau volumenya tak sebesar yang kami rasakan.Merusak konsentrasi,menaikkan tekanan darah,dan meluapkan rasa emosi hingga titik tertinggi.Parahnya lagi,mampu membuat semua dari kami lalai dalam bertindak, asal semua beres,tanpa memikirkan akibat dari semua tindakan dan keputusan yang kami ambil.

Senior kami akhirnya merancang sebuah prosedur untuk mengatasi rasa panik,mungkin tepatnya bukan menghilangkan,lebih kearah mengurangi,karena rasa panik itu tetap akan muncul sesedikit apapun.Trik pertama yang harus dilakukan adalah mengabaikan semua telepon yang masuk,tapi jangan sampai melepas kabel teleponnya.Biarkan saja komplain dari pelanggan masuk dan dering membanjiri ruangan.Kedua,hal utama yang harus dilakukan adalah berpikir,asbab musabab apa yang menyebabkan semua ini terjadi,jika tak sanggup,minta tolong kepada senior lebih diutamakan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut karena asal bertindak.Ketiga,setelah semua hal ilhwal penyebab sudah diketahui,segera lakukan tindak lanjut dan eskalasikan kepada pihak pihak yang terkait.Keempat,setelah semua itu selesai dan keadaan sudah membaik dalam kurun waktu beberapa saat,coba telepon kembali pelanggan dan jelaskan apa yang terjadi,dan hal penting lain yang ditekankan dalam pembahasan kami adalah RILEKS! Tarik nafas dalam dalam,dan keluarkan perlahan.Tanpa merelaksasikan tubuh,pikiran akan menyerah terlebih dahulu,karena ia sudah kalang kabut,bingung,manakah yang harus dikerjakan dahulu? Siapa dan apa yang harus saya prioritaskan? Terkadang kita ingin melakukan semua itu serba cepat dan ingin segera terselesaikan,namun dari beberapa pengalaman yang saya lalui sendiri,hal itu malah memakan waktu lama,karena pikiran tidak fokus dan bercabang.Akhirnya segala sesuatunya dikerjakan setengah setengah,hasilnyapun kurang maksimal.

Hari hari berlalu,dan di benakku masih terngiang ngiang nasehat dari seniorku itu.Kucermati,memang dia selalu terlihat santai dan bersikap baik kepada pelanggan,entah dalam perbuatan,ataupun tutur katanya yang hampir tak pernah memaki pelanggan meskipun pelanggan yang salah.Hemmhh!! Berat nafasku terasa,apa bisa aku bersikap seperti dia? Atau kawan juniorku yang satunya,tutur katanya paling halus jika berinteraksi dengan pelanggan di telepon,hingga ia diminta untuk mengajarkan kepada kami bagaimana cara berujar dan melontarkan kata kata yang tepat kepada pelanggan.Aku sendiri paham,bahwa aku paling tidak bisa menghadapi pelanggan yang ngeyel.Ya! pelanggan yang secara teknis bisa dibilang kurang paham,namun ia selalu membantah semua pernyataan pernyataanku.Tapi,setelah dipikir pikir lagi,memang benarlah apa yang senior dan kawanku lakukan,semua berimbas pada kepuasan dan loyalnya pelanggan pada perusahaan ini.Pelayanan yang baik akan membuat pelanggan betah berlama lama menggunakan jasa perusahaan ini.Pelanggan adalah raja,mereka tidak mau disalahkan meskipun sesungguhnya mereka yang salah karena ketidaktahuan mereka.Cara cara yang digunakan adalah memberitahukan secara halus dalam berlisan kepada mereka.Apabila pelanggan masih kurang puas atau bahkan tidak percaya,haruslah dibuktikan dihadapan mereka sendiri melalui serangkaian test dan ujicoba sehingga hasil yang akan ditunjukkan kepada mereka akurat.Semua itu tentu membutuhkan ilmu,agar kita bisa memberi penjelasan yang benar kepada mereka.

Lewat tengah malam,kali ini aku kembali bekerja ditengah gelapnya hari dan lelapnya orang tertidur.Kriingg.. Gangguan besar ini muncul kembali,semua telepon kantor berdering tiada henti,bahkan lebih keras dari kentongan ronda yang biasa dibunyikan warga.Ingat,RILEKS kataku,kucoba analisa satu persatu dan mencari secara perlahan lahan penyebab semua masalah ini.Sembari aku mencari penyebabnya,aku sempatkan berinteraksi dengan kawanku di jejaring sosial facebook,untuk mengurangi rasa penat dan terutama panikku.Satu persatu prosedur kuikuti sesuai dengan hasil diskusi team kami.Selesai! Semuanya berlangsung lebih cepat dari yang kuduga.Semua itu memberiku pelajaran,bahwa bertindak dan berpikir tergesa gesa akan membuahkan hasil yang kurang maksimal.Semua tindakan seharusnya memang dipikirkan terlebih dahulu sebelum hendak mengeksekusinya,agar hasilnya lebih matang.